#7 Makna

Mengapa sampai detik ini kamu masih bertahan hidup.

“tuhan, aku belum paham dengan puisimu

Nggak ada kata lain dariku. Jawaban pendek yang mungkin tidak menjawab. Tapi bolehkah itu jadi alasan? Apa salah berkata begitu? Entahlah.

Seharusnya kalimat itu mrnjadi satu twit saja, tak usah nampang di blog 😐. Anggap saja formalitas karena saya sudah buntu. Juga gemas dengan yang namanya puisi, hanya tahu teori praktik nol. Seperti seorang jomblo dari lahir sedang menasehati kawannya yang playboy (tolong adakah istilah bahasa Indonesia lain yang lebih pendek dari “laki-laki yang suka bermain perempuan”πŸ€”).

“bantu aku paham”

Min atau mon boleh tanya kenapa pada akhir setiap tantangan itu tanda titik dan apa yang “sebenarnya” harus dijawab? πŸ€”


#6 Kelilipan Debu

Hampir seharian dia meringkuk di kasurnya. Ia tidak sedang sakit fisik, bukan juga sakit mata karena matanya terus berair. Dia memang tidak punya pekerjaan yang perlu dikerjakan selain meringkuk dan menangis. Ujian nasional sudah selesai, ia juga sudah diterima di Sekolah Menengah Kejuruan. Selain makan dan tidur apa lagi yang ia lakukan untuk menunggu tahun ajaran baru?Β 

Lanjutkan membaca “#6 Kelilipan Debu” β†’

​#4 πŸ’”


*&*

Cinta adalah puisi. Multi tafsir. Setiap orang memiliki cara definisi masing-masing tentang perasaan cinta mereka. Kata cinta itu hampir bisa didefinisikan oleh seluruh kata-kata yang ada. Titik

Tetapi aku kehabisan kata untuk mendefinisikannya dan tidak mungkin aku pos blog sependek itu, dua baris definisi cinta. Lebih pendek daripada satu  twit. 

Jika main andai-andaian cinta adalah daun, daun apa yang aku sebut cinta? Daun waru (Hibiscus macrophyllus). Bukan karena bentuknya mirip hati, tetapi karena daun waru gunung itu kebanyakan berlubang-lubang. Lalu apa hubungannya dengan cinta? Cinta itu sebenarnya tidak utuh tetapi tetap bertahan pada batang supaya fotosintesis tetap berlangsung. Agar tumbuh dedaunan baru, agar muncul bebungaan.

Jika cinta adalah makanan, makanan apa yang disebut cinta? Tempe. Kebanyakan orang Di Indonesia pernah memakannya. Entah di warteg, restoran, angkringan, atau rumah. 

Okay tulisan ini semakin tidak jelas 😡 😡.  Entah karena masih pagi atau karena otak ini terbagi memikirkan tugas makalah dan presentasi 😒. 

Semangaat semuanya πŸ’ͺ terima kasih sudah mampir 😊

#3 Kira-kira seperti itu

Kira-kira bagaimana perasaanmu jika mempunyai anak, sementara anak tersebut tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan.

Anak apa yang dimaksud kalimat itu (Malah tanya πŸ˜…)?  Saya mempunyai dua opsi pribadi untuk pernyataan itu. Satu,  anak didik yang notabene adalah anak orang lain. Dua adalah anak saya sendiri (berasa gimana gitu  pas nulis ini πŸ˜…). Kedua anak itu pasti memiliki dasar yang berbeda untuk diharapkan.

Lanjutkan membaca “#3 Kira-kira seperti itu” β†’

#1 Bayang-bayang

Dia menubrukku lagi dengan kisah dari tempat itu. Tempat yang tepat menyelimutiku dengan pekat kegelapan, kemudian menyeret kepolosan menjadi diriku yang sekarang. Diriku yang payah. Bayangan itu berkelebat dengan cara yang aneh. Dia dipaksa lewat, aku tahu dia terpaksa muncul. Jika dia sudah muncul, tinggal aku yang mendefinisikannya. Memperkenalkan dia pada kalian.

*&* Lanjutkan membaca “#1 Bayang-bayang” β†’

#3 Kebetulan

Tadi pagi, tidak ada angin atau hujan teman indekosku bertanya apa cita-citaku. Lah? Apa dia tahu hari ini tema writing challnge adalah tentang cita-cita? Dan tunggu dulu dia sama sekali belum aku beri tahu soal challenge   ini. Kebetulan yang dua kali menonjokku. Satu aku belum membuat draft untuk tantangan hari ke-3. Dua aku gagap dalam menjawab pertanyaan itu, dengan wajah (sok) polos  πŸ˜’, aku berkata β€œentah”.

Lanjutkan membaca “#3 Kebetulan” β†’

#2 Seandainya…

β€œMengapa saya tidak tahu apa-apa?”

Tiba-tiba saya merasa menjadi yang paling bodoh dalam suatu forum. Siapa itu Rendra? Siapa itu A.A Navis? Siapa itu Mochtar Lubis? Siapa Sutan takdir Alisjahbana? Apa saya sedang tersesat? Haloo? Itulah yang saya rasakan 2 tahun yang lalu, saat menjadi maba (mahasiswa baru) pada sebuah universitas swasta di Yogyakarta.Β  Lanjutkan membaca “#2 Seandainya…” β†’

Pencelat dari Negeri Dongeng

Pagi ini hujan rintik menghablur di latar rumah orang tuaku. Aku menikmatinya dengan segelas besar susu cokelat panas. Kekanakan untuk makhluk seusiaku. Kadang menyenangkan sesekali menjadi kekanakan. Memang melelahkan menjadi sok dewasa. Melintas bayangan seorang anak yang sibuk bolak-balik kamar-tempat menjemur baju. Tubuh mungil itu terbalut handuk biru bergambar Micky Mouse. Ia adalah aku yang sedang bersiap berangkat sekolah. Lanjutkan membaca “Pencelat dari Negeri Dongeng” β†’