​Sebuah Buku Tua 

Ingatkah kalian dengan buku kumal yang ditemukan di lemari sekolah kita dulu? Buku bersampul merah yang pinggirnya digerogoti ngengat, dan di situ tertoreh tulisan “Tabir mimpi”. Sebuah buku yang pernah jadi rebutan saat kami kelas empat SD hingga sampulnya lepas dan hilang. 

Entah apa yang menyebabkan buku buluk itu jadi rebutan, saya justru ngeri membacanya. Tapi kalian yang begitu antusias memupuk rasa penasaran kanak-kanak saya juga. Hingga sekarang saya tak bisa melupakan sampul buku itu, walau buku itu sudah lenyap entah ke mana saat kami baru menyadarinya.

Saya sebenarnya tak yakin buku itu sungguhan, apa mungkin ada buku seperti itu di lemari SD kelas 4 (saya menemukannya di lemari kelas 3). Kalian (teman-teman sekolah saya) selalu mencari-carinya hingga terbatas waktu, kita lulus. Mungkin juga buku itu sampai sekarang masih melayang-layang pada satu imaji kita, sebagai kenangan konyol atau menarik, entahlah. 

Bagaimana jika buku itu telah terproyeksi sempurna pada masing-masing kita yang penasaran? Dan kita terus mencari yang hilang bersama dan telah menjadi mimpi untuk menemukannya? Buku tabir mimpi telah menjadi mimpi sungguhan, membayang dan melayang-layang menjadi salah satu harapan masa depan. 

Saya bisa berkata demikian, karena mimpi muncul dalam buku yang tengah saya baca sekarang, dan  dengan bahasan yang berkelit-kelit, tentunya untuk mencapai mimpi juga. Apa kabar mimpi-mimpi kalian? Bukankah kalian selalu menemukan buku itu dalam benak masing-masing yang membuktikan bawa buku itu telah terproyeksi sempurna pada masing-masing kita yang penasaran. Hal yang membuat wujud buku itu benar-benar lenyap menjadi mimpi sungguhan.

​Dibuang sayang 😶

Dokumen itu sering muncul sebagai pilihan terakhir untuk memperluas ruang simpan alias gudang leptop saya yang entah mengapa selalu bejubel. Namun sesekali timbul keraguan klise, dokumen itu merupakan salah satu “gaman” saya lulus smk dulu, dalam dkoumen itu juga ada danau air mata yang menggenang. Kenangan yang cukup “nyesek” untuk saya. Tapi leptop sekarang perlu ruang untuk tulisan-tulisan lain, saya harus bagaimana? Dengan nafas berat saya menutup dokumen itu dan menghapus dokumen lain, ternyata sakit hati itu belum menjadi cerita. Masih mengendap seperti kenangan, belum mampu saya jadikan sebuah cerita pendek.

Terkadang, saya tidk mengerti untuk apa saya melakukan sesuatu, apakah hanya berorientasi untuk “Segera lulus” atau  untuk mengerti dan menghayati? Ketika saya sadar, ternyata saya tidak memakai hati untuk berkenalan dengan pipet tetes, erlenmeyer, gelas ukur, dan lain-lain. 

Cerita Panjang yang Tidak Menarik

Gadis itu berlari menjauh dari seluruh kata yang mengejarnya. Dia bertertak-teriak minta tolong, akan tetapi kata yang keluar malah mencekik lehernya, menyumbat pita suaranya.

“Mengapa engkau bilang mencipta… menciptaa!”

Sebuah paragraf mengaum cepat, giginya berjajar seperti huruf v atas dan bawah. Gadis itu tidak mampu menjerit. Dia minta tolong pada orang bisu tapi dia tidak  mengerti apa yang ia katakan dengan isyarat.

“Kenapa kau menjadikaknu puisi buruk rupa! Apa maumu!”

Karpet di jalan itu adalah puisi yang menggeliat bagai ular, melilit gadis itu dan siap menerkam dirinya. Puisi piton? Gadis itu tidak pernah ingat telah membuat puisi semegerikan itu dan kini telah tiba saatnya dia untuk dimangsa tulisannya sendiri.

Crash! “Jangan rebut tumbalku!” Teriak seseorang yang memegang pedang samurai sambil mengayunkan pedang itu pada piton. Yang membua ular itu bergerak tanpa arah dan memuncratkan beberapa potong kata yang kemudian meleleh menjadi genangan kental berwarna tinta. Sosok berpedang itu kemudian mengarahkan samurainya pada gadis itu siap menebas nya menjadi dua.

“Bagaimana jika engkau tercipta tanpa hati dan dibuat seperti mesin pembunuh!”

“Apa maksudmu?”

“Dasar orang bebal! Kapan kau menyelesaikan ceritaku?!”

Gadis itu terdiam beberapa saat

“Tebas Aku cepat! Cepat bunuh aku!”

Teriak gadis itu meronta, bibirnya telah pecah dengan gigitannya sendiri. seperti terpantik dengan kata-kata itu Laki-laki dengan samurai itu matanya seolah terbakar, dan mengayunkan pedangnya. Tapi sebelum ia berhasil menebag gadis kumal negara api menyerang, eh maksudku ada bola api yang menerjang badan berotot itu hingga mencelat entah ke mana. Terlihat di ujung sana ada seorang perempuan dengan rambut setengah terbakar.

“Baik! Kau sudah bisa hidup dan tercipta, sementara aku baru diangankan, namaku saja belum jelas!”

Bayangan perempuan itu menjadi api dan semakin memijar ke segala arah. Dia mengankat pakaian gadis kumal yang terkesima melihatnya.

“Ternyata kau begitu luarbiasa Mega.”

Perempuan berambut setengah api itu menjerit dan lenyap. Gadis kumal itu masih duduk. Kekacauan imajinasinya belum reda jua.

Dia mencoba berdiri dan berjalan dengan menyeet kaki kirinya yang tadi terkena percikan api dari Mega. Ia menyeret kakinya masuk ke dalam hutan dan masuk kedalam gua.

Gadis itu amat terkejut melihat seeorang yang duduk tenang di atas batu pada tengah gua, badannya diterangi sinar dari celah bebatuan.

“Hey!” gadis itu berteriak pada orang itu .

“Hey! Kau apa kau juga mau membunuhku?”

Badan di atas batu itu bergeming sperti saat dia pertama kali di ceritakan. Tidak ada yang berubah dari mimik wajahnya. Gadis itu dudk di bawah batu sang pertapa dia menginga-ingat apakan ia pernah menuliskan tokoh yang arif, suci seperti pertapa itu? Ah!

Gadis berpakaian kumal itu membenahi posisi duduknya, bersila dengan tegap dan memejamkan matanya. Ternyata benar dugaanya ia berkomunikasi menggunakan ilmu kebatinan. Ia melihat lelaki asing yang tengah membaca buku di perpustakaan yang dibangun di atas awan. Gadis itu juga beru menyadari bahwa ia juga ada di atas awan dengan pakaian yang aneh tetapi bersih.

Ia mencoba membuka peti sopan santun dalam otaknya, ia lupa cara menyapa orang lain, ia lupa cara berbicara dengan manusia. Kotaknya sulit sekali dibuka padahal kunci dan kombinasinya tepat. Gadis itu masih sibuk membuka kotak dia atas awan. Dia tidak sadar bila telah menarik perhatian seseorang di perpustakaan itu, dan menyisipkan senyumannya lewat angin lembut yang meniup rambut yang tertata berantakan itu. Senyum dari orang di sana yerasa sangat nyata yang menyadarkan gadis itu dari kesibuan kotak yang ada dalam tetangan piirannya. Siapa kau? Pertanyaan yang terselip dalam senyuman gadis itu yang terbawa cahaya meyahari sampai pada bayangan orang itu. Awan di telapak kaki gadis itu semakin mendwkat pada perpustakaan yang  hterlihat sepeti sandwich awan dengan isi pilar-pilar dan buku yang berserak dengan indahnya. Awan gadis itu mendekat dan semakin mendekat, seperti parasaan nya yang semakin tertarik pada tempat itu.

Apa ia ingin membunuhku juga? Ingin meminta sesuatu dariku? Sembari berpikir seperti itu kagi gadis berpakaian aneh itu mendekati sosok yang sedang duduk di kursi panjang yang bergiaskan lilitan tanaman anggur. Lelaki itu tersenyum lagi penuh makna. Tetapi tidak sepatah kata pun mereka ucapkan.

Entahlah apa yang mereka bicarakan melalui udara, cahaya dan hal-hal lain. Tetapi gadis itu terbangun dari tidurnya dan kembali di dunia nyata dan milai mengetik. Gemertuk suara papan tombol pada leptopnya, menjadi cerita ini.

Apa yang sosok itu katakan padaku? Dia bilang dia tuli, seperti ksiah katak tuli yang mendaki menara, kalau kau hendak memunculkanku pada setiap cerita, jadilah seperti aku. Tetapi, jangan hanya seperti ini, lihat aku hanya kau kenal.

Asta Wisa

“Sudah aku katakan bahwa itu terlarang bagimu! Bagi keluarga kita!” Romo melempar segala yang berserak di depanku sambil mengoceh tidak keruan yang silih berganti dengan mantra Aku yang waktu itu berusia lima tahun hanya diam dan menangis lalu lari mencari pinggang ibu. Setelah kejadian itu aku demam selama seminggu, lalu seolah ada yang lenyap dalam hidupku. Aku menjalani dua belas tahun dengan kekosongan misterius dalam jiwaku.

Continue reading “Asta Wisa”

DIA YANG DI SUDUT

Sesuatu yang tidak penting dan lupakan saja

Ketika tokoh utama berpikir bahwa cinta adalah bualan, maka cerita ini telah berubah menjadi roman picisan seharga sepuluh sen. Cerita itu punya ranah kerennya sendiri, remaja yang lagi lovey-dovy. Tokoh utama ini selalu bingung, sebegitu sederhana sekaligus pelikkah cinta? Hingga Sitti Nurbaya merelakan cintanya demi janji ayahnya? Atakukah kisah Hamid dan Zainab yang masing-masing berkorban demi pengorbanan? Di sisi lain tokoh itu melihat tokoh utama yang hanya membicarakan cinta, seperti dirinya. Tidak ada hal lain yang penting selain cinta, dan pengorbanan.

Continue reading “DIA YANG DI SUDUT”

​Di Balik Semak Gadung

Sepertinya orang- orang-orang itu menghilang di tengah kerumunan membaur dan menghablur jadi satu. Satu-satunya hal yang tidak pernah kumiliki sejak bayi, kawan. Kerumunan-kerumunan itu semakin melebar dan melebur setiap individu. Yang tengah duduk bersantai, ada yang lari sekuat tenaga untuk jadi kerumunan itu, ada yang meronta, ada yang menjerit, ada yang menerjunkan diri untuk merontakan orang lain.

Continue reading “​Di Balik Semak Gadung”

#7 Makna

Mengapa sampai detik ini kamu masih bertahan hidup.

“tuhan, aku belum paham dengan puisimu

Nggak ada kata lain dariku. Jawaban pendek yang mungkin tidak menjawab. Tapi bolehkah itu jadi alasan? Apa salah berkata begitu? Entahlah.

Seharusnya kalimat itu mrnjadi satu twit saja, tak usah nampang di blog 😐. Anggap saja formalitas karena saya sudah buntu. Juga gemas dengan yang namanya puisi, hanya tahu teori praktik nol. Seperti seorang jomblo dari lahir sedang menasehati kawannya yang playboy (tolong adakah istilah bahasa Indonesia lain yang lebih pendek dari “laki-laki yang suka bermain perempuan”🤔).

“bantu aku paham”

Min atau mon boleh tanya kenapa pada akhir setiap tantangan itu tanda titik dan apa yang “sebenarnya” harus dijawab? 🤔


#6 Kelilipan Debu

Hampir seharian dia meringkuk di kasurnya. Ia tidak sedang sakit fisik, bukan juga sakit mata karena matanya terus berair. Dia memang tidak punya pekerjaan yang perlu dikerjakan selain meringkuk dan menangis. Ujian nasional sudah selesai, ia juga sudah diterima di Sekolah Menengah Kejuruan. Selain makan dan tidur apa lagi yang ia lakukan untuk menunggu tahun ajaran baru? 

Continue reading “#6 Kelilipan Debu”