fiksi mini

Akar dan Mata

Mata mereka menempel di dinding, di setiap batu yang kamu injak, di setiap pepohonan kanan kiri jalan, dan bahkan kamu tidak sadar bahwa kamu adalah mata itu. Saya tahu ibu selalu berkata begitu, padaku yang bersembunyi di belakang kejauhan. Setidaknya di kejauhan mata-mata itu rabun, walau mulutnya masih seperti bunga sepatu yang mekar sepanjang tahun.

Ibu sudah bilang jika dia semakin kurus, dan bapak tambah gemuk. Walau begitu mata-mata itu tetap ada, mengawasi celah untuk muncul bunga-bunga bibir yang merekah. Aku tahu-aku tahu. Sembunyi di balik kejauhan tidak akan bertahan lama. Suatu saat kejauhan akan membuangku mendekat atau kedekatan memang sudah memanggilku dari kejauhan sebagai manusia. Ah aku lupa.

Dan akar-akar ini, ah ayolah mereka tiap tahun semakin jelas dan tertanam pada rindu, tetapi, tetapi, tetapi aku masih berbisik mencari alangkah banyak alasan untuk memangkas akar itu, agar tidak terusir dari balik kejauhan. Sayangnya akar-akar terpotong itu sudah menampar bapak dan ibu, menggemboskan ibuku yang ginuk-ginuk dan memberi udara lebih pada bapaku yang dahulu seperti tiang beton.

Akar-akarku, mata-mata yang menempel di mana-mana, dan bunga-bunga bibir merah merekah darah. Siapa yang bisa menghindarinya? Kecuali manusia-manusia yang dianggap manusia. Aku? Bukan-bukan dalam menceritakan ini aku tetap tidak bisa dianggap manusia. Mengapa?

Iklan
fiksi mini

Salah Pandang

Jadi, aku menyesal menyukainya atau tidak. Jadi sebuah cerita akan berawal atau justru berakhir. Apa aku sadar tengah dipermainkan lagi? Hadis itu memainkan ujung rambutnya yang berantakan. Memang selalu berantakan, apa lagi dia baru sakit cinta lagi. Dua kali dalam sepuluh tahun ia mengejar  hujan dan senja yang bersamaan sendirian. Keduanya tak pernah akur dan pasti tidak akan terkejar.

Jadi apa benar dia sedang sakit? Dilihat dari fisiknya ia memang  tidak sedang baik-baik. Tapi selain itu, wajahnya berseri dan matanya bersinar terang. Jadi apa yang salah. Aku yang salah memandang gadis itu.

fiksi mini

Hanya imajinasi

Gadis itu memandangi bayangannya, sambil menunggu. Menunggu dirinya terbebas dari fantasi “Dia menyukaimu”. Gadis yang sedang kasmaran itu memainkan ujung bajunya yang cukup panjang, sesekali ditatapnya kerumunan yang hilir mudik di depannya. Seandainya dia yang gadis kecil maksud lewat, ia berencana memberi senyum paling manis yang ia punya.

Gadis yang tengah jatuh cinta itu menggambarkan segala yang baik tentang dia. Angan-angannya membawa gadis itu ringan dan terbang ke segala sudut bahagia yang pastinya hanya fantasi belaka. Badanya melayang seolah terangkat bahagia. Ia masih menunggu.
Ternyata dia tidak muncul.

Tidak ada alasan untuk menunggumu. Mengapa aku tetap menunggu? Tidak ada alasan untuk bahagia dengan bayangan kita bersama. Memang hanya bayangan. Barang kali itu orang lain yang kamu imajinasikan sebagai dirimu sendiri? Mengapa? Kamu sedang jatuh cinta? Hanya karena itu? Hanya karena kamu dan gadis itu sudah terlalu lama kesepian?

Di luar sana menung akan tetap ada seharian dan gadis itu lelah berfantasi tentang cintanya. Dia patah hati tanpa merasakan cinta itu apa, lagi, lagi dan lagi. Lagi-lagi dia seperti itu. Apa yang dapat menyembuhkannya? Di luar sana mendung seharian dan gadis itu lupa belum membeli payung. Di luar sana Dia idamannya sedang bergandeng payung dengan entah siapa dia.

Cerpen

Sakura dan Akar Beku

Sudahkah kamu benar-benar jatuh, wahai yang sedang jatuh cinta? Masih kutunggu engkau di dasar jurangmu sendiri. Di titik engkau akan berbalik dan benar-benar menjadi pecinta sejati.
-DeeLestari

Memandangi kutipan itu, gadis rambut ombak itu menggumam. Sudah berapa kali aku menulis kutipan itu? Sejak kapan aku mulai patah hati? Seandainya aku benar-benar patah hati adakah Diva yang menungguku untuk menjadi pecinta sejati?

Ada sosok lain memandangi gadis berambut ombak berpita merah itu. Apakah ia benar-benar dedaunan yang pohon itu tunggu untuk membunga atau hanya sekadar daun gugur dari pohon lain. Mengapa dedaunan tak kunjung tumbuh? Mengapa aku takut jika daun-daun itu tumbuh pada pepohonan itu?

Jika benar akun sedang jatuh seberapa dalamkah aku hingga aku sangat ketakutan dengan daun-daun itu? Kenapa bunga selalu muncul pada wajah gadis itu. Kelopak merah jambu bertebaran pada sekelilingnya, tanpa daun selembar pun. Sakura.

Tapi, tolonglah gadis itu menyadari dirinya tidak seistimewa pohon sakura, dia hanya tanaman gersang yang rantingnya mudah patah. Akar-akarnya mulai membusuk atau mencengkeram kuat? Entahlah (Pepohonan, Kafka). Salju terlalau dingin di kepalanya. Membekukan dirinya sendiri dalam kerapuhan atau dalam beku.

Sosok lain itu bergumam memandangi gadis berambut ombak berpita merah yang memandangi jendela, seandainya kamu tahu aku hanya seandainyamu. Aku hanya bayanganmu yang memandang dari mata orang lain, dan tidak selamanya begitu. Akar musim dingin yang sedang menunggu beku.

Gadis berambut ombak berpita merah yang memandangi jendela itu menemukan malam yang gelap dan membeku di luar sana. Mana mungkin ada sakura berbunga di musim salju, mana mungkin ada daun hijau tumbuh di permukaan putih itu, selain kau sedang jatuh cinta.

Ia meneguk tandas coklat panasnya. Sedalam mana lagi aku akan terjatuh? Semabuk apa lagi aku akan mabuk? Aku tak bisa memekarkan sakura itu pada musim ini. Aku Cuma sedang menunggu Diva dalam jurang patah hati yang tidak lama lagi muncul. Haha.

Gadis berambut ombak berpita merah itu tak lagi duduk dan memandang jendela, ia beranjak untuk membeku menuju toko kelontong yang menjual kopi hitam.

*****
-Cerita ini ditulis ketika saya besok UTS. Istilahnya sedang kabur dengan membaur hal lain. 😂 cerita ini sekali jadi dan mungkin akan jadi bahan lelucon.

Cerpen

Hujan atau gerimis?

Pagi ini gadis itu mulai merindukan gerimis yang malam-malam selalu mengetuk jendelanya. Gerimis itu membawanya berkeliling sungai-sungai yang aliranya mulai membesar dan seolah meraung-raung bersama guntur.

Gadis itu tak pernah takut basah dan demam karena air hujan, sebab hujan adalah sahabat sekaligus kekkasihnya yang tidak selamanya berada di sampingnya, tetapi akan selalu ada tiap ia menrindukannya.

Mungkin, tahun ini adalah kemarau paling panjang yang pernah dirasakan gadis itu. Rindunya tak kunjung diobati, pepohonan dalam dirinya sudah meragas dan sebentar lagi mati karena mereka tidak dirancang sebagai pepohonan gurunn.

Dengan jemarinya, pagi ini gadis itu mengetuk-ngetuk kaca jendelanya dari dalam kamarnya, mengisyaratkan rindu pada hujan, yang semohga datang malam nanti

Cerpen

Kucing Manis

Meong, seorang gadis kecil berlari mengejar seekor kucing kampung, mengitari rumahnya. Kucing itu melompat ke genting. Meng, gadis itu menyerah. Meong, gadis itu mengejar kucing sekaligus dikejar bapaknya, mengelilingi meja kecil yang seperti penjara, kucing itu bisa keluar, menyelinap dari celah-celah jeruji. Gadis itu tetap berlari mengelilingi meja dikejar bapaknya hingga memperdalam penjaranya sendiri.

Gadis itu lelah, sesekali hendak berhenti. “Ah barangkali ada berlian yang tertanam di dasar penjara ini.” Kata bapaknya. Ah tapi gadis itu hanya mau kucing dan berlarian mengitari rumahnya bukan menggali di sekitar mejanya, sampai ber meter-meter pula dalamnya.Mengapa harus meja itu, gadis itu bertanya-tanya.

Bukankah ia yang memilih meja ini dari pasar yang jauh di sana. Apa salah meja ini? ia hanya mau kucing, setelah sampai setengah galian? Dia cuma mau kucing! Masa ini gadis itu berubah menjadi masa kecilnya lagi, saat dia tengah mengejar kucing itu. Ia membeli meja untuk jadi tumpuanya menangkap kucing di atap, bukan untuk digali dalam-dalam.

Gadis itu berhenti sejenak, memandang langit-langit dari dasar galian, kucing itu muncul dengan pecut, ceritanya selesai. Lalu di malam selanjutnya gadis itu bermimpi sedang makan apel dan membaca buku sambil memangku kucing hitam di bawah pohon ek yang rimbun di atas bukit. Dia menduduki gelarn taplak kotak-kotak merah dan putih yang amat nyata di gelar di atas hjau rerumputan.

Cerpen

Sebalik Jendela Kosong

Seorang gadis sedang memandang jendela yang menghadap tembok bermandi semburat oranye dari sebuah genting kaca di atas sana.

Aku memandang jendela ini seperti cermin besar yang tengah berusaha keras memantulkan bayanganku dalam semburat jingga.

Bayangan rupawan itu terpantul rapi dengan buram di belakangnya. Suram, tanpa senyum. Segala tampak setengah gelap bahkan gelas di meja depan cermin itu tidak pernah tampak.

Sosok paling jelas di sana adalah bayanganku? Dia adalah aku? Akankah seseorang bisa hidup tanpa bayangan? Ia seolah olah meraba udara kosong yang ia sebut sebagai cermin. Kata orang, aku tidak terlihat seperti manusia yang sesungguhnya manusia. Kata mereka aku adalah pelengkap seseorang.

Semburat jingga kian menghitam.Mata hari tampaknya sudah tenggelam sepenuhnya. Apa aku hanya serpih kecil seseorang. Sesuatu yang lebih buram dari bayangan orang itu sendiri. Bagaimana bentuk utuhnya? Adakah makhluk macam itu? Dan disebut apa mereka?

Gadis itu menganggap ia adalah bayangan cermin yang bisa dipantulkan. Ia adalah maya yang ada. Ia menatap cermin imajinernya lekat-lekat, tetapi tembok itu tidak memantulkan apa-apa kecuali kebisingan dari balik sana.

Jika kasus itu ada berarti indukku adalah amuba besar yang mudah terbelah. Jadi aku tidak kanya satu.

Ia memandangi cermin yang sudah lenyap dari alam fananya sendiri.

Aku tidak mengada-ada. Atau imajinasiku ada. Jika aku adalah seseorang mengapa aku kurang dan jika aku bukan seseorang, maka apa aku ini?

Cerpen

Lampu Tomat

[Tik tok tik tok]

Gadis itu membayangkan ketika pohon-pohon dan tiang-tiang lampu tertukar dan terkontruksi kembali menjadi bentuk aneh tak biasa. Akankah bunga mekar pada cahaya?

[Tik tok tik tok]

Gadis itu memilirkan bagaimana bila lampu jalanan menjadi berwarna tomat, tapi serupa lampu jalanan? Apa tetap bisa dimakan. Hutan-hutan akan penuh dengan cahaya daun-daun . Dan kebun-kebun akan penuh bohlam pecah yang serupa tomat merah.

[Tik tok tik tok]

Hanya bayangan, gadis itu hanya mampu membayangkan. Bukan apa-apa bukan apa-apa. Ia menghela napas. Bayangan ya hanya bayangan yang menghabiskan detik kan? Bayangan yang tak berguna. Dibuang saja dibuang saja. Jadilah manusia normal normal normal. Sialan! Normal itu seperti apa? Bisik gadis itu pada bohlam oranye yang pecah di samping kakinya.

Resah

Nilai bahasa Indonesia Sempurna? Mitos

Dilema akut seorang guru adalah memberi nilai sempurna untuk ulangan peserta didiknya, apalagi pelajaran yang agak jauh dari ilmu pasti. Seperti pelajaran kriya atau bahasa. Ada banyak faktor yang menyebabkan seorang guru berpikir mengenai risiko aneh yang dapat terjadi apabila ia memberikan nilai sempurna pada peserta didik. Takut peserta didik menjadi sombong, menyepelekan mata pelajaran dan lain sebagainya. Saat saya sekolah saya baru sekali melihat nilai ujian bahasa Indonesia 100 bulat dan hanya sekali itu sampai sekarang, sampai saya belajar di jurusan pendidikan bahasa.

Akan tetapi, berbanding terbalik dengan guru-guru di sekolah jenjang SMA ke bawah, dosen-dosen sering tidak ragu memberi nilai sempurna dan tinggi pada mahasiswa yang mengerjakan soal dengan sungguh-sungguh (baca: A atau 4). Saya merasa hal itu sangat berbeda sekali dengan guru-guru bahasa Indonesia yang saya temui (sekitar tahun 2004-2015). Selain itu sekitar tahun 2015 dan 2016 saya mempunyai tanggung jawab untuk berdekat-dekat dengan guru bahasa Indonesia salah satu sekolah negeri di Yogyakarta (baca: magang). Pada saat itu pula saya juga menemui guru yang “pelit nilai”. Memang, kesempurnaan hanya ada pada Tuhan, akan tetapi nilai sempurna ada bukan untuk kemustahilan.

Dari mata seorang siswa, saya sedikit merasa kecewa, karena ternyata belajar dengan sekuat tenaga sampai otak tercecer tak keruan nilai sempurna hanya mimpi yang tak mungkin terealisasikan pada mata pelajaran yang kadang dianggap paling mudah. Semua orang bisa mendapatkan nilai tinggi, tetapi nilai sempurna adalah gaib. Sampai sekarang pun saya masih bingung, mengapap? beberapa guru melakukan hal itu. Ad yang bisa membantu saya menjawab? 😀 saya harap ada 😏

Cerpen

Cerita-cerita yang tak Pernah Selesai

Pada suatu saat seorang penulis kehilangan kemampuan menulisnya. Ia mengorek-orek kembali cerita-cerita yang ada dalam notebooknya. Ternyata, cukup banyak cerita yang belum sempat mencapai dua paragraf dan akhirnya hanya memenuhi ruang penyimpanan.

Penulis itu kemudian membuka-buka masing-masing dokumen dan tidak tahu harus apa. Membiarkannya dan memetik buah yang baru, tapi ternyata sudah membusuk. Kapan penulis itu akan menulis. Kapan dia sadar bahwa dia bukan penulis?

Lanjutkan membaca “Cerita-cerita yang tak Pernah Selesai”